Tuesday, April 23, 2013

Habiburrahman El-syirazy dialog Mahasiswa STAIN Pekalongan



 Habiburrahman elsyirzy berdialog dengan mahasiswa STAIN pekalongan
Ketika waktu itu menunjukkan pukul 13.00, senin tgl 22 april 2013, kami bersiap-siap dengan segala fasilitas yang niatnya auditorium stain akan dipakai untuk rapat bersama dengan beberapa ukm ukm campus, yang secara tidak sengaja kemudian bpk abdul azeiz selaku ketua upb (unit pusat bahasa) stain pekalongan, menghampiri kami di audit dan beliau matur katanya bpk habiburrahman elyirazy penulis novel ayat-ayat cinta akan kesini dan dialog bersama mahasiswa sini.

Dengan laporan tersebut kami jadi kaget yang mana rapat juga akan dimulai jam 14.30 siang,lalu kami serentak merasakan nikmat yang tak terduga-duga akan kedatangan tamu penulis novel no.1 di asia akan kesini, dengan mendadak di kala itu,
Lalu kami mempersiapkan seadanya fasilitas yang tadinya di sediakan tempat duduk diperuntukkan kepada presiden bem stain pekalongan dan ketua-ketua ukm dan anggota ukm, di sulap sedikit agar lebih cantik karena akan diduduki seorang penulis novel terkenal, dan memberi pesan sms kepada para tamu undangan rapat seadanya dengan isi “rapat akan dimulai harap segera merapat”
Ketika itu waktu menunjukkan jam 14.30, kami dan bapak abdul aziz sempat bingung karena waktu itu kursi tamu undangan masih terisi hanya 5-10 bangku saja.
Hal ini sudah terbiasa ketika rapat organisai dimanapun dan kapanpun waktu pasti molor karena “WIB” singkatan dari waktu insyaAllah berubah” hehee.,.maaf sedikit bercanda...
Saya lanjut, kala itu, sampai jam setengah kemudian barulah para tamu undangan rapat segera berdatangan meski belum penuh bangku-bangkunya.
Lalu bapak habiburrahman el-syirazy datang dengan tak di duga-duga ada mobil plat semarang dengan nomor polisi yang tak bisa saya sebutkan disini berapa nomernya., sempat terkejut juga karena datang dengan bapak Dr. Zawawi, beliau adalah dosen bahasa arab dan pascasarjana alumni hadist dari al-azhar mesir .

Foto dengan kamera vga “maaf gg  jelas”
Duduklah sang penulis disamping presiden bem stain pekalongan sebelah kiri beliau bpk DR. Zawawi, bapak ustadz Lc. Kana n pres. Bem bapk Abdul Aziz, dan ustadz musna fadi
Semua yang duduk diatas adalah para ustadz jebolan dari al-azhar kairo, mesir  yang sudah tak diragukan lagi ilmu-ilmu nya, semoga beliau di panjangkan umurnya dan mampu mengamalkan pada kita sampai tua nanti, amin,
Sang penulis novel ayat-ayat cinta menyampaikan salam , dan hormat kepada semua tamu undangan yang sebenarnya adalah tamu undangan rapat akhirnya disulap menjadi seminar tentang beliau dan karya-karyanya., sungguh hal yang luar biasa dan ajib, bagi saya dan kawan-kawan.
Beliau menyampaikan rasa nikmat yang luar biasa karena bisa bertemu kawan lamanya ketika menjadi mahasiswa al-azhar yakni bapak dr. Zawawi (sebelah kiri beliau) , beliau memaparkan pengalaman-pengalamnya ketika kuliah di al-azhar, yang mana diisi waktu-waktunya untuk belajar , membaca, menulis dan saling bergantian memasakkan untuk makan dan tinggal serumah dengan nya (Dr. Zawawi). Saat itu bapak bapak terhormat didepan tampak tersenyum, terenyuh dan terharu berjumpa kawan seperjuangannya yang sudah menjadi orang hebat di tempat kelahirannya. Dan masih banyak curhat beliau yang tak bisa saya tuliskan disini semuanya.
Ada banyak pesan taushiyah beliau,

Setelah itu dibuka dialog dan disini presiden bem membuka 4 penanya., yang mana penanya tersebut menanyakan beberapa hal yang sudah saya rangkum disini.
1.      Dari siapa bapak terinspirasi untuk menulis
2.      Kenapa bapak menjadi penulis sedangkan kawan-kawan lain menjadi orang ahli agama
3.      Apa yang bapak lakukakn ketika badmod
4.      Kenapa novel bapak judulnya selalu diakhiri dengan kata cinta, ayat-ayat cinta, dalam mihrob cinta, diatas sajadah cinta, dll.,
Dan jawabannya ..,
saya akan ketikkan dengan singkat ya, cukup sesuai dengan ingatan yang ada di memori otak saya aja yaa...,
begini jawaban beliau:
ketika pertama menulis dari majalah, tabloid, syair, puisi dari berbagai sumber ketika beliau masih kuliah di mesir,
beliau menulis inspirasi dari syekh ramadhan albuthi yang sudah almarhum di damaskus siria, beliau mengaku tak menyagka ternyata seorang sykeh ulama besar pun menulis novel ketika mudanya, lalu memberanikan diri untuk melanjutkan novelnya.,
beliau juga menceritakan sejak kecil dari pertamanya tertarik dengan syair-syair puisi., ketika duduk dibangku kls 2 sd, beliau ditunjuk untuk mewakili lomba baca puisi dari sekolahnya karena ketika itu beliau adalah ketua kelas dan sering menjadi komandan barisan saat upacara , jadi suaranya keras ., ketika lombapun menang dan juara 1 mendapat buku 1 lusin hal ini membuat beliau sangat bahagia dan tidak berfikir untuk membeli buku lagi untuk bulan depan. Oh ya , puisi yang dibacakan adalah berjudul pangeran diponegoro, beliau dengan penuh mendalami isi nya dan terbawa dengan geraknya badan nya ketika membaca puisi tersebut. Saya dan teman-teman tertawa bahak disini, karena beliau mencontohkan begitu serius dan merasakan seperi halnya membaca puisi di kecil itu.
Kemengangan ini membawa kenangan, saat beliau melanjut ke pesantren, dan menyediakan diri untuk maju lomba membaca puisi, dengan pedenya suaranya sangat lantang , membaca nya seperti anak sd, karena dulu pun membacanya demikian., ya kalah dah, dikiranya akan menang ketika medengarkan pengumuman dari no. 15 sampai ke yang terbaik nomor 1, ditunggu namanya nggak keluar-keluar. Kalah karena membacanya yang masih ke kanak-kanakan padahal saingannya kelas berat, “tutur sang penulis”
            Dan menjawab lagi, kenapa belakang judulnya selalu kata cinta, karena cinta itu takkan pernah habis di bicarakan semua ingin tentang cinta, ila yaumil qiyamah cinta tak akan pernah lekang di bicarakan di dunia ini “tutur kata beliau”
Kenapa gg seperti lainnya, saya jadi penulis sedang yang lain jadi ahli agama, beliau menangkis pemikiran penanya tersebut, dan beliau mengaku dirumahnya juga sering mengisi pengajian setiap malam jumat dikampungnya dan tahlilan, dll.., karena rumahnya berhadapan dengan masjid. Yang juga mengajar kitab kuning di majlis kampungnya bersama anak-anak muda setempat tiap malmnya., kitab berjudul hidayatulhidayah sampai katam
Beliau menikah dengan mahar kitab fathul bari dan novel ayat-ayat cinta yang masih dalam penggarapan episode berikutnya. Dikasihkanlah print out pertama dari penulis kepada calon istrinya, melalui penghulu.
            Ternyata judul ayat-ayat cinta sudah beliau karang sejak kuliah yang ditemukan bacaan di perpus tempat kuliahnya., dan seraya berdoa “Ya Allah jangan engkau anugerahkan judul ini  kepada penulis lain, karena saya akan memakainya”
Niat beliau menulis novel adalah untuk berdakwah supaya menjadi karya yang di minati banyak kalangan muda di seluruh belahan dunia.
            Istri saya termasuk orang yang gemar membaca tulisan saya.,ketika  badmod maka saya istirahat dan tidur sejenak untuk menanam kekuatan kembali.
Lalu beliau beranjak pulang karena akan melanjutkan perjalannya ke comal ke budenya, sebenarnya dan mampir ke stain karena di ajak oleh kawan lamanya yakni dr. Zawawi untuk mampir di stain, dan berdialog dengan mahasiswa stain pekalongan.
Ketika keluar pintu audit kemudian disambut wartawan dari batikTV pekalongan, untuk di wawancarai yang kebetulan saya disampingnya dan agan semua bisa nonton di batik tv 24 uhv pekalongan , begini saja cerita yang saya ingat kemaren. “Kata-kata yang masih saya ingat Allah akan memberikan kepandaian kepada hambanya yang rajin., dan ini termasuk hukum kauniyah atau ayat kauniyah”.
Di alqu’an diteragkan kepada muslim untuk berprestasi “fastabiqul khoirot” berlomba-lombalah dalam kebaikan. Ini suatu ayat yang di tujukan pada kita untuk berprestasi. 

Posisi beliau akan masuk ke mobil pribadinya. Sehabis wawancara dengan wartawan batikTV

No comments:

Post a Comment