Monday, April 22, 2013

Makalah Tentang Epistimologi, Bayani, Irfani



A.  Latar Belakang Masalah
Ilmu pengetahuan dan teknologi yang hingga saat ini menjadi kunci yang paling mendasar dari kemajuan yang diraih umat manusia, tentunya tidak datang begitu saja tanpa ada sebuah dinamika atau diskursus ilmiah. Proses untuk mendapatkan ilmu pengetahuan itulah lazim dikenal dengan istilah epistemologis.

Secara etimologis, Epistemologi merupakan bentukan dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu Episteme yang berarti pengetahuan dan Logos yang juga berarti pengetahuan atau informasi. Dari pengertian secara etimologis tersebut di atas dapatlah dikatakan bahwa Epistemologi merupakan pengetahuan tentang pengetahuan.
Pengertian dari segi terminologi, The Liang Gie dalam bukunya Pengantar Filsagfat Ilmu mendefenisikan bahwa:
“Epistemologi adalah teori pengetahuan yang membahas berbagai segi pengetahuan seperti kemungkinan, asal mula sifat alami, batas-batas, asumsi dan landasan, validitas dan realibilitas sampai soal kebenaran”.[1][3]
Lebih lanjut Ahmad Tafsir mengungkapkan bahwa Epistemologi membicarakan sumber ilmu pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan.[2][4]
Oleh karena itu, epistemologis ini menempati posisi yang sangat strategis, karena ia membicarakan tentang cara untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Mengetahui cara yang benar dalam mendapatkan ilmu pengetahuan berkaitan erat dengan hasil yang ingin dicapai yaitu berupa ilmu pengetahuan. Pada kelanjutannya kepiawaian dalam menentukan epistimologis, akan sangat berpengaruh pada warna atau jenis ilmu pengetahuan yang dihasilkan.[3][5]
Sejarah telah mencatat bahwa peradaban Islam pernah menjadi kiblat ilmu pengetahuan dunia sekitar abad ke-7 sampai abad ke-15. Setelah itu, masa keemasan itu mulai melayu, statis, bahkan mundur hingga abad ke-21 ini.[4][6]
Hal itu terjadi, karena Islam dalam kajian pemikirannya paling tidak menggunakan beberapa aliran besar dalam kaitannya dengan teori pengetahuan (epistemologi). Setidaknya ada tiga model sistem berpikir dalam Islam, yakni bayani, irfani dan burhani yang masing-masing mempunyai pandangan yang berbeda tentang pengetahuan. Ketiga sistem atau pendekatan tersebut dikenal juga tiga aliran pemikiran epistemologi Barat dengan bahasa yang berbeda, yakni empirisme, rasionalisme dan intuitisme. Semen tara itu, dalam pemikiran filsafat Hindu dinyatakan bahwa kebenaran bisa didapatkan dari tiga macam, yakni teks suci, akal dan pengalaman pribadi.[5][7]
Selain sebagai instrumen untuk mencari kebenaran, ketiga epistemologi tersebut juga bisa digunakan sebagai sarana identifikasi cara berfikir seseorang. Pemahaman paling sederhana pada ketiga epistemologi ini adalah jawaban dari pertanyaan, “Dengan apakah manusia mendapatkan kebenaran?”.[6][8]
Seorang filosof dengan corak berfikir burhani akan menjawab bahwa sumber kebenaran itu dari akal atau panca indera. Dengan kedua sarana ini manusia memunculkan dua dikotomi antara apa yang disebut rasional dan irrasional. Rasional adalah sebuah kebenaran, sebaliknya irrasional adalah sebuah kesalahan.[7][9]
Selanjutnya orang yang memiliki corak berfikir bayani akan menjawab bahwa sumber kebenaran itu dari teks. Rasio tidak memiliki tempat dalam pembacaan mereka terhadap kebenaran. Ketercukupan golongan ini terhadap teks memasukkan mereka pada golongan fundamental literalis. Sedangkan orang yang memiliki corak berfikir irfani akan menjawab bahwa sumber kebenaran itu dari wahyu, ilham, wangsit dan sejenisnya. Pola berfikir demikian akan membangun sebuah struktur masyarakat yang memiliki hirarki atas bawah.[8][10]
B.   Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa sebenarnya yang dimaksud dengan epistemologi bayani, burhani dan irfani?
2.      Bagaimana sejarah kemunculan dan perkembangan epistemologi bayani, burhani dan irfani?
3.      Apa saja keunggulan dan keterbatasan epistemologi bayani, burhani dan irfani?



BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Bayani, Burhani dan Irfani
Fasilitas pengetahuan manusia meliputi panca indera yang dapat mengamati objek-objek fisik, akal/rasionalitas yang mampu mengenal objek fisik dan nonfisik dengan menyimpulkan dari yang telah diketahui menuju yang tidak diketahui dan hati (qalb) yang menangkap nonfisik atau metafisika melalui kontak langsung dengan objek yang hadir dalam jiwa.[9][11] Fasilitas-fasilitas tersebut yang yang memungkinkan manusia mengetahui realitas alam semesta yang bertingkat-tingkat wujudnya dalam suatu hirarkis. Oleh karena itu, dalam epistemologi Islam, dikenal realitas fisik dan non-fisik, baik berupa realitas imajinal (mental) maupun realitas metafisika.[10][12]
Hal tersebut ditegaskan dalam al-Qur’an QS. Al-Sajadah: 7-9:
الذي أحسن كل شيء خلقه وبدأ خلق الإنسان من طين. ثم جعل نسله من سلالة من ماء مهين. ثم سواه ونفخ فيه من روحه وجعل لكم السمع والأبصار والأفئدة قليلا ما تشكرون.
Artinya: “Dia memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ruh-Nya ke dalam (tubuh manusia) dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, pengelihatan dan hati tetapi kamu sedikit sekali bersyukur”.[11][13]
Ketiga organ tubuh disebutkan secara khusus karena itulah yang akan berguna kepada manusia dalam kehidupan duniawi dan agama, sekaligus alat atau media dalam memperoleh ilmu pengetahuan.[12][14] Dengan demikian, Sebuah pengetahuan akan diperoleh melalui pendengaran atau  bisa disebut baya>ni yakni mengandalkan pendengaran akan teks-teks yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, atau melalui penglihatan dengan menganalisa apa yang dilihat dan apa yang dilakukan oleh Rasulullah, sahabat dan para pengikutnya, sedangkan hati dapat mengantarkan seseorang untuk menimbang mana yang terbaik untuk diterapkan.     
1.    Bayani
Kata bayani berasal dari bahasa Arab yaitu al-baya>ni> yang secara harfiyah bermakna sesuatu yang jauh atau sesuatu yang terbuka.[13][15] Namun secara termenologi, ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan al-baya>ni>, ulama ilmu al-bala>gah misalnya, mendefinisikan al-baya>n sebagai sebuah ilmu yang dapat mengetahui satu arti dengan melalui beberapa cara atau metode seperti tasybi>h (penyerupaan), maja>z dan kina>yah.[14][16] Ulama kalam (theology) mengatakan bahwa al-baya>n adalah dalil yang dapat menjelaskan hukum. Sebagian yang lain mengatakan bahwa al-baya>n adalah ilmu baru yang dapat menjelaskan sesuatu atau ilmu yang dapat mengeluarkan sesuatu dari kondisi samar kepada kondisi jelas.[15][17]      
Namun dalam epistemologi Islam, bayani adalah metode pemikiran khas Arab yang menekankan pada otoritas teks (nas}), secara langsung atau tidak langsung, dan dijustifikasi oleh akal kebahasaan yang digali lewat inferensi (istidla>l).[16][18]
Oleh karena itu, secara langsung bayani adalah memahami teks sebagai pengetahuan jadi dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran. Namun secara tidak langsung bayani berarti memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu tafsir dan penalaran. Meski demikian, hal ini tidak berarti akal atau rasio bisa bebas menentukan makna dan maksudnya, tetapi tetap harus bersandar pada teks. Sehingga dalam bayani, rasio dianggap tidak mampu memberikan pengetahuan kecuali disandarkan pada teks. Dalam perspektif keagamaan, sasaran bidik metode bayani adalah aspek eksoterik (syariat).[17][19]
Dengan demikian, epistemologi bayani pada dasarnya telah digunakan oleh para fuqaha>' (pakar fiqhi), mutakallimu>n (Theolog) dan us}ulliyu>n (Pakar us{ul al-fiqhi). Di mana mereka menggunkan bayani untuk:
a.       Memahami atau menganalisis teks guna menemukan atau mendapatkan makna yang dikandung atau dikehendaki dalam lafaz, dengan kata lain pendekatan ini dipergunakan untuk mengeluarkan makna zahir dari lafaz yang zahir pula.
b.      Istinba>t} (Pengkajian) hukum-hukum dari al-nus}u>s} al-di>niyah (al-Qur'an dan Hadis).[18][20]
Dalam bahasa filsafat yang disederhanakan, pendekatan bayani dapat diartikan sebagai model metodologi berpikir yang didasarkan atas teks. Dalam hal ini teks sucilah yang memilki otoritas penuh menentukan arah kebenaran. Fungsi akal hanya sebagai pengawal makna yang terkandung di dalamnya yang dapat diketehui melalui pencermatan hubungan antara makna dan lafaz.
Hubungan antara makna dan lafaz dapat dilihat dari segi:
a.       Makna wad}'i>, untuk apa makna teks itu dirumuskan yang meliputi makna kha>s}, 'a>m dan musytarak.
b.      Makna isti'ma>li<, yaitu makna apa yang digunakan oleh teks, meliputi makna h}aqi>qah dan makna maja>z.
c.       Darajat al-wud}u>h{, yaitu sifat dan kualitas lafaz, meliputi muh{kam, mufassar, z}a>hir, khafi, musykil, mujmal, dan mutasya>bih.
d.      T{uruq al-dila>lah, yaitu penunjukan lafaz terhadap makna, meliputi dila>lah al-manz{u>m dan dila>lah al-mafhu>m.[19][21]
2.    Burhani
Burhani merupakan bahasa Arab yang secara harfiyah berarti mensucikan atau menjernihkan.[20][22] Menurut ulama ushul, al-burha>n adalah sesuatu yang memisahkan kebenaran dari kebatilan dan membedakan yang benar dari yang salah melalui penjelasan.[21][23]      
Al-Ja>biri> mendekatinya melalui sistem epistemologi yang ia bangun dengan metodologi berpikir yang khas, bukan menurut terminologi mantiqi> dan juga tidak dalam pengertian umum, dan berbeda dari yang lain. Epistemologi tersebut pada abad-abad pertengahan menempati wilayah pergumulan kebudayaan Arab Islam yang mendampingi epistemologi baya>ni> dan `irfa>ni>.[22][24]
Epistemologi burhani menekankan visinya pada potensi bawaan manusia secara naluriyah, inderawi, eksperimentasi, dan konseptualisasi (al-h}iss, al tajribah wa muh}a>kamah 'aqli>yah).
Jadi epistemologi burhani adalah epistemologi yang berpandangan bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah akal. Akal menurut epistemologi ini mempunyai kemampuan untuk menemukan berbagai pengetahuan, bahkan dalam bidang agama sekalipun akal mampu untuk mengetahuinya, seperti masalah baik dan buruk (tansi>n dan tawbi>h). Epistemologi burhani ini dalam bidang keagamaan banyak dipakai oleh aliran berpaham rasionalis seperti Mu’tazilah dan ulama-ulama moderat.[23][25]
Dalam filsafat,baik filsafat Islam maupun filsafat Barat istilah yang seringkali digunakan adalah rasionalisme yaitu aliran ini menyatakan bahwa akal (reason) merupakan dasar kepastian dan kebenaran pengetahuan, walaupun belum didukung oleh fakta empiris. Tokohnya adalah Rene Descartes (1596–1650, Baruch Spinoza (1632 –1677) dan Gottried Leibniz (1646 –1716). [24][26] Sementara dalam ilmu tafsir istilah yang sering digunakan pada makna burhani adalah tafsi>r bi al-ra’yi.[25][27]   
Jika melihat pernyataan al-Qur'an, maka akan  dijumpai sekian banyak ayat yang memerintahkan manusia untuk menggunakan nalarnya  dalam menimbang ide yang masuk ke dalam benaknya. Banyak ayat yang berbicara tentang hal ini dengan berbagai redaksi seperti ta'qilu>n, tatafakkaru>n, tadabbaru>n.[26][28]  dan lain-lain.  lni membuktikan bahwa akal pun mampu meraih pengetahuan dan kebenaran selama ia digunakan dalam wilayah kerjanya. 
3.    Irfani
Irfani merupakan bahasa Arab yang terdiri dari huruf ع- ر-ف  memiliki dua makna asli, yaitu sesuatu yang berurutan yang sambung satu sama lain dan bermakna diam dan tenang.[27][29] Namun secara harfiyah al-‘irfa>n adalah mengetahui sesuatu dengan berfikir dan mengkaji secara dalam. Dengan demikian al-‘irfa>n lebih khusus dari pada al-‘ilm.[28][30]        
Secara termenologi, irfani adalah pengungkapan atas pengetahuan yang diperoleh lewat penyinaran hakikat oleh Tuhan kepada hambanya (al-kasyf) setelah melalui riya>d}ah.
Contoh konkrit dari pendekatan 'irfani lainnya adalah falsafah isyra>qi> yang memandang pengetahuan diskursif (al-h}ikmah al-ba>t}iniyyah) harus dipadu secara kreatif harmonis dengan pengetahuan intuitif (al-h}ikmah al-z\awqiyah). Dengan pemaduan tersebut pengetahuan yang diperoleh menjadi pengetahuan yang mencerahkan, bahkan akan mencapai al-h}ikmah al-h}aqi>qiyyah. Pengalaman batin Rasulullah saw. dalam menerima wahyu al-Qur'an merupakan contoh konkrit dari pengetahuan irfani.
Dapat dikatakan, meski pengetahuan irfani bersifat subyekyif, namun semua orang dapat merasakan kebenarannya. Artinya, setiap orang dapat melakukan dengan tingkatan dan kadarnya sendiri-sendiri, maka validitas kebenarannya bersifat intersubyektif dan peran akal bersifat partisipatif.
Implikasi dari pengetahuan 'irfani dalam konteks pemikiran keislaman, adalah menghampiri agama-agama pada tataran substantif dan esensi spiritualitasnya, dan mengembangkannya dengan penuh kesadaran akan adanya pengalaman keagamaan orang lain (the otherness) yang berbeda aksidensi dan ekspresinya, namun memiliki substansi dan esensi yang kurang lebih sama.
Dalam filsafat, irfani lebih dikenal dengan istilah intuisi. Dengan intuisi, manusia memperoleh pengetahuan secara tiba-tiba tanpa melalui proses penalaran tertentu. Ciri khas intuisi antara lain; z|auqi> (rasa) yaitu melalui pengalaman langsung, ilmu hud}u>ri> yaitu kehadiran objek dalam diri subjek, dan eksistensial yaitu tanpa melalui kategorisasi akan tetapi mengenalnya secara intim. Henry Bergson menganggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi, tetapi bersifat personal.[29][31]
Dalam surah pertama yang diturunkan kepada Rasulullah saw., dijelaskan bahwa ada dua cara mendapatkan pengetahuan. pertama melalui "pena" (tulisan) yang harus dibaca oleh manusia dan yang kedua melalui pengajaran secara langsung tanpa alat. Cara yang kedua ini dikenal dengan istilah 'llm Ladunny seperti ilmu yang diperoleh oleh Nabi Haidir:
فوجدا عبدا من عبادنا آتيناه رحمة من عندنا وعلمناه من لدنا علما
Artinya: “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba kami, yang Telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang Telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”.[30][32]
Pengetahuan intuisi ada yang berdasar pengalaman indrawi seperti aroma atau warna sesuatu, ada yang langsung diraih melalui nalar dan bersifat aksioma seperti A adalah A, ada juga ide cemerlang secara tiba-tiba seperti halnya Newton ( 1642-1727 M) menemukan gaya gravitasi setelah melihat sebuah apel yang terjatuh tidak jauh dari tempat ia duduk dan ada juga berupa mimpi seperti mimpi Nabi Yusuf as. dan Nabi Ibrahim as.[31][33] 
Mengenai taksonomi epistemologi pengetahuan irfani adalah dari segi sumber pengetahuan, ia bersumber dari kedalaman wujud sang ‘a>rif  itu sendiri; dari segi media/alat pengetahuan, ia bersumber dari kedalaman-kesejatian wujud sang ‘a>rif; dari segi objek pengetahuan, ia menjadikan wujud sebagai objek kajiannya; dari segi cara memperoleh pengetahuan, ia diperoleh dengan cara menyelami wujud kedirian melalui metode riya>d}ah.
B.   Asal Usul Epistemologi Bayani, Burhani dan Irafani
Di penghujung abad pertama Hijriyah, telah terjadi pemindahan ilmu-ilmu kuno dari Iskandaria, pusat perkembangan filsafat Hermes ke dalam kebudayaan Islam Arab. Kehadiran ilmu-ilmu nonArab Islam ini mengundang sikap anti pati ulama ahl al-sunnah awal karena dianggap bertentangan dengan aqidah Islam. Ilmu-ilmu tersebut memasuki wilayah kebudayaan Islam melalui penerjemahan.
Kemapanan Pemerintahan Islam, terutama pada masa pemerintahan Abbasiyah, memberi peluang yang luas bagi komunitas Muslim untuk berkenalan dengan kebudayaan luar. Hal ini atas dukungan Khalifah al-Mansur yang sangat respek terhadap ilmu pengetahuan. Sejak itu, Baghdad telah banyak bersinggungan dengan filsafat Yunani. Ibnu Nadim dalam al-Fihrisat (pada masa kekuasaan al-Makmun; 811-833.M) banyak sekali mengalihbahasakan tulisan Aristoteles. Ini merupakan awal gerakan keilmuan yang menduduki posisi puncak dalam pengalihbahasaan filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab (al-ta'rib), bahkan di dalam kebudayaan Arab Islam tulisan Aristoteles dianggap sebagai kitab induk sehingga dalam Da>r al-H{ikmah banyak sekali terkumpul manuskrip (makht}u>t}a>t) di dalamnya.[32][34]
Kronologi Bayani paling tidak telah dimulai dari masa Rasulullah saw, dimana beliau menjelaskan ayat-ayat yang sulit dipahami oleh sahabat. Kemudian para sahabat menafsirkan al-Qur’an dari ketetapan yang telah diberikan Rasulullah saw melalui teks. Selanjutnya tabi’in mengumpulkan teks-teks dari Rasulullah dan sahabat, kemudian mereka menambahkan penafsirannya dengan kemampuan nalar dan ijtihadnya dengan teks sebagai pedoman utama. Akhirnya datang kemudian generasi setelah tabi’in yang melakukan penafsiran sebagaimana pendahulunya sampai berkelanjutan kepada generasi yang lain.
Sedangkan Aristoteles merupakan orang yang pertama membangun epistemologi burhani yang populer dengan logika mantiq yang meliputi persoalan alam, manusia dan Tuhan. Aristoteles sendiri menyebut logika itu dengan metode analitik. Analisis ilmu atas prinsip dasarnya baik proporsi h}amli>yah (Categorical Proposition) maupun shart}i>yah (Hypothetical Proposition) pada hakikatnya adalah alat untuk mencapai tujuan berupa aturan-aturan untuk menjaga kesalahan berpikir.
Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa logika Aristoteles lebih memperlihatkan nilai epistemologi dari pada logika formal. Demikian pula halnya dengan diskursus filsafat kita dewasa ini yang melihat persoalan alam (alam, Tuhan dan manusia) bukan lagi persoalan proposisi metafisika karena epistemologi burhani dikedepankan untuk menghasilkan pengetahuan yang valid dan bangunan pengetahuan yang meyakinkan tentang persoalan duniawi dan alam. Dinamika kehidupan kontemporer dewasa ini bisa memilah-milah masing-masing pendekatan epistemologik: bayani dan irfani karena masing-masing memiliki tipikal satu sama lain, dan epistemologi burhani bisa menjadi pemoles keserasian hubungan antara kedua epistemologi di atas.
Para pakar berbeda pendapat tentang asal mula sumber irfani. Pendapat tersebut dapat diklasifikasi dalam beberapa poin sebagai berikut:
1.      Sebagian golongan menganggap bahwa irfani berasal dari Persia dan Majusi seperti yang disampaikan oleh Dozy dan Thoulk. Alasannya bahwa sejumlah orang-orang besar sufi berasal dari Khurasan dan kelompok Majusi.
2.      Sebagian yang lain mengatakan bahwa irfani bersumber dari Kristen sebagaimana yang diungkapkan oleh Von Kramer, Ignaz Goldziher, Nicholson dan yang lain. Alasan mereka paling tidak dapat dikelompokkan dalam dua poin, yaitu:
a.       Interaksi yang terjadi antara orang Arab dan kaum Nasrani pada masa jahiliyah dan Islam.
b.      Kesamaan kehidupan antara sufi dan Yesus dan Rahib dalam masalah ajaran, tata cara riya>d{ah, ibadah dan tata cara berpakaian.
3.      Sebagian yang lain berpendapat bahwa irfani bersumber dari India seperti pendapat Horten dan Hartman. Alasan yang diajukan adalah:
a.       Kemunculan dan penyebaran irfani pertama dari Khurasan.
b.      Kebanyakan para sufi angkatan pertama bukan dari kalangan Arab.
c.       Turkistan adalah pusat agama dan kebudayaan timur dan barat sebelum Islam yang sedikit banyak memberi pengaruh mistisisme.
d.      Konsep dan metode irfani seperti keluasan hati dan pemakaian tasbih merupakan praktik-praktik dari India. 
4.      Sebagian yang lain berpendapat bahwa irfan berasal dari Yunani, khususnya neo-platonisme dan Hermes. Alasannya sederhana bahwa theologi Aristoteles merupakan paduan antara sistem porphiry dan proclus yang sudah dikenal dalam Islam.[33][35]              
Namun demikian, penulis cenderung berpendapat bahwa irfani tidak berasal dari luar Islam sebab kehidupan Rasulullah saw. para sahabat dan tabiin menunjukkan bahwa mereka dalam suatu waktu akan menggunakan irfani bahkan mempraktikkan irfani, meskipun penamaannya belum ada.
Salah satu bukti bahwa Rasulullah saw. membenarkan bahkan mengakui akan keberadaan makna irfani adalah hadisnya yang berbunyi:
إن الله قال من عادى لي وليا فقد آذنته بالحرب وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه وما يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به ويده التي يبطش بها ورجله التي يمشي بها وإن سألني لأعطينه ولئن استعاذني لأعيذنه.[34][36]
Artinya: Sesungguhnya Allah berfirman: “Barangsiapa yang menyakiti seorang wali maka aku mengumandangkan perang dengannya, hambaku tidaklah mendekatkan diri kepadaku dengan sesuatu yang paling aku cintai melainkan apa yang aku wajibkan padanya dan hambaku senantiasa mendekatkan diri kepadaku dengan hal-hal yang sunnah hingga aku mencintainya. Jika aku sudah mencintainya maka akulah pendengaran yang digunakan mendengar, penglihatan yang digunakan melihat, tangan yang digunakan memukul dan kaki yang digunakan berjalan, Jika dia meminta padaku aku akan memberikannya dan jika dia berlindung kepadaku maka aku akan melindunginya”.
Sedangkan riya>d{ah dalam irfani sering kali dilakukan oleh Rasulullah saw. dan sahabat-sahabatnya seperti khulwah (penyepian), tinggal di mesjid Nabawi dan prilaku individu sahabat.     
Pada perkembangan berikutnya istilah yang dapat mewakili makna irfani mulai beragam. Dalam filsafat misalnya dikenal istilah intuisi sedangkan dalam tafsir dikenal istilah isya>ri>.  
C.   Keunggulan dan Keterbatasan Bayani, Burhani dan Irafani
Pada prinsipnya, Islam telah memiliki epistemologi yang komprehensif sebagai kunci untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Hanya saja dari tiga kecenderungan epistemologis yang ada (bayani, burhani dan irfani), dalam perkembangannya lebih didominasi oleh corak berpikir bayani yang sangat tekstual dan corak berpikir irfani (kasyf) yang sangat sufistik. Kedua kecenderungan ini kurang begitu memperhatikan pada penggunaan rasio secara optimal.[35][37]
Keunggulan bayani terletak pada kepada kebenaran teks (al-Qur’an dan Hadis) sebagai sumber utama hukum Islam yang bersifat universal sehingga menjadi pedoman dan patokan.[36][38]  
Dalam epistemologi bayani sebenarnya ada penggunaan rasio, akan tetapi relatif sedikit dan sangat tergantung pada teks yang ada. Penggunaan yang terlalu dominan atas epistemologi ini telah menimbulkan stagnasi dalam kehidupan beragama, karena ketidakmampuannya merespon perkembangan zaman. Hal ini dikarenakan epistemologi bayani selalu menempatkan akal menjadi sumber sekunder, sehingga peran akal menjadi terpasung di bawah bayang-bayang teks, dan tidak menempatkannya secara sejajar, saling mengisi dan melengkapi dengan teks.[37][39]
Sistem berpikir yang konstruksi epistemologinya dibangun di atas semangat akal dan logika dengan beberapa premis merupakan keunggulan epistemologi burhani. 
Namun Kendala yang sering dihadapi dalam penerapan pendekatan ini adalah sering tidak sinkronnya teks dan realitas. Produk ijtihadnya akan berbeda jika dalam pengarusutamaan teks atau konteks. Masyarakat lebih banyak memenangkan teks daripada konteks, meskipun yang lebih cenderung kepada kontekspun juga tidak sedikit.
Di antara keunggulan irfani adalah bahwa segala pengetahuan yang bersumber dari intuisi-intuisi, musya>hadah, dan muka>syafah lebih dekat dengan kebenaran dari pada ilmu-ilmu yang digali dari argumentasi-argumentasi rasional dan akal. Bahkan kalangan sufi menyatakan bahwa indra-indra manusia dan fakultas akalnya hanya menyentuh wilayah lahiriah alam dan manifestasi-manifestasinya, namun manusia dapat berhubungan secara langsung (immediate) yang bersifat intuitif dengan hakikat tunggal alam (Allah) melalui dimensi-dimensi batiniahnya sendiri dan hal ini akan sangat berpengaruh ketika manusia telah suci, lepas, dan jauh dari segala bentuk ikatan-ikatan dan ketergantungan-ketergantungan lahiriah.[38][40]
Namun kendala atau keterbatasan irfani antara lain adalah bahwa ia hanya dapat dinikmati oleh segelintir manusia yang mampu sampai pada taraf pensucian diri yang tinggi. Di samping itu, irfani sangat subjektif menilai sesuatu karena ia berdasar pada pengalaman individu manusia.
Metode kasyf dalam kritik epistemologi, bukanlah suatu pola yang berada di atas akal, seperti yang diklaim irfaniyyun. Bahkan ia tidak lebih dari sekedar pemikiran yang paling rendah dan bentuk pemahaman yang tidak terkendali. Irfaniyyun masuk ke alam mistis yang telah ada dalam pemikiran agama-agama Persi kuno, yang dikembangkan pemikir-pemikir Hermeticism. Apa yang mereka alami “ mungkin  benar “ atau barangkali “kebenaran karena kebetulan “, akan tetapi tidak akan dapat menyelesaikan masalah.[39][41]
Pendekatannya yang supra-rasional, menafikan kritik atas nalar, serta pijakannya pada logika paradoksal yang segalanya bisa diciptakan tanpa harus berkaitan dengan sebab-sebab yang mendahuluinya, mengakibatkan epistemologi ini kehilangan dimensi kritis dan terjebak pada nuansa magis yang berandil besar pada kemunduran pola pikir manusia.[40][42]


BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Bertolak dari pemaparan dan penjelasan yang telah diuraikan di atas, dapat ditarik beberpa poin sebagai kesimpulan pembahasan sebagai berikut:
1.      Epistemologi bayani adalah epistemologi yang beranggapan bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah wahyu (teks) atau penalaran dari teks, seperti ilmu hadis, fikih, ushul fikih, dan lainnya. Epistemologis bayani merupakan suatu cara untuk mendapatkan pengetahuan dengan berpijak pada teks, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung dalam arti langsung menganggap teks sebagai pengetahuan jadi, dan secara tidak langsung yaitu dengan melakukan penalaran yang berpijak pada teks ini.
Sedangkan epistemologi irfani adalah epistemologi yang beranggapan bahwa ilmu pengetahuan adalah kehendak (ira>dah). Epistemologi ini memiliki metode yang khas dalam mendapatkan pengetahuan, yaitu kasyf. Metode ini sangat unique karena tidak bisa dirasionalkan dan diperdebatkan. Penganut epistemologi ini adalah para sufi, oleh karenanya teori-teori yang dikomunikasikan menggunakan metafora dan tams\i>l, bukan dengan mekanisme bahasa yang definite (nyata).
Sementara epistemologi burhani adalah epistemologi yang berpandangan bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah akal. Akal menurut epistemologi ini mempunyai kemampuan untuk menemukan berbagai pengetahuan. Epistemologi burhani ini dalam bidang keagamaan banyak dipakai oleh aliran berpaham rasionalis seperti Mu’tazilah. Ibnu khaldun menyebut epistemologi ini dengan ‘ulu>m al-aqliyyah. Tokoh pendiri epistemologi ini adalah Aristoteles. Karena epistemologi ini lebih berpijak pada tradisi berpikir yunani, maka ciri utamanya adalah penggunaan akal secara maksimal.
2.      Kronologi Bayani paling tidak telah dimulai dari masa Rasulullah saw, dimana beliau menjelaskan ayat-ayat yang sulit dipahami oleh sahabat. Kemudian para sahabat menafsirkan al-Qur’an dari ketetapan yang telah diberikan Rasulullah saw melalui teks. Selanjutnya tabi’in mengumpulkan teks-teks dari Rasulullah dan sahabat, kemudian mereka menambahkan penafsirannya dengan kemampuan nalar dan ijtihadnya dengan teks sebagai pedoman utama. irfani tidak berasal dari luar Islam sebab kehidupan Rasulullah saw. para sahabat dan tabiin menunjukkan bahwa mereka dalam suatu waktu akan menggunakan irfani bahkan mempraktikkan irfani, meskipun penamaannya belum ada.
3.      Keunggulan bayani terletak pada kepada kebenaran teks (al-Qur’an dan Hadis) sebagai sumber utama hukum Islam yang bersifat universal sehingga menjadi pedoman dan patokan. Keunggulan irfani adalah bahwa segala pengetahuan yang bersumber dari intuisi-intuisi, musya>hadah, dan muka>syafah lebih dekat dengan kebenaran dari pada ilmu-ilmu yang digali dari argumentasi-argumentasi rasional dan akal.
B.   Implikasi
Untuk memahami sebuah kebenaran tidak cukup hanya dengan memiliki satu corak berfikir saja. Dalam memahami Islam, Imam Ghazali menjadikan fikih sebagai ilmu yang mengantarkannya untuk memahami nash-nash agama. Dikemudian hari, beliau merasa bahwa tanpa rasionalitas akal, pemahaman terhadap nash agama tersebut terasa kurang. Maka beliau mempelajari mantiq. Sehingga agama dalam corak berfikir beliau menjadi agama yang rasional. Radionalitas dalam agama ini pada akhirnya menjadikan agama terasa hambar tanpa spirit di dalamnya. Dari sinilah corak berfikir irfani dibutuhkan. Maka beliau mempelajari tashawwuf.
Dibutuhkan sinergi antara tiga corak berfikir diatas. Akan tetapi harus diakui bahwa antara ketiga corak berfikir ini memiliki kontradiksi yang saling menjatuhkan. Oleh karenanya, sinergi yang diharapkan adalah sebuah sinergi yang moderat. Ada pada tiap corak berfikir diatas yang diambil dan ditolak. Maka keadilan menjadi sikap yang harus dimiliki seserorang dalam memilah dan memilih postulat-postulat tersebut. Allah berfirman: “Dan demikian Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (al-Baqarah: 143).
Perpaduan antara pikiran yang brilian yang dipadu dengan hati yang jernih, akan menjadikan Iptek yang dimunculkan kelak tetap terarah tanpa menimbulkan dehumanisasi yang menyebabkan manusia teralienasi [terasing] dari lingkungannya. Kegersangan yang dirasakan oleh manusia modern saat ini, karena Iptek yang mereka munculkan hanya berdasarkan atas rasionalitas belaka, dan menafikan hati atau perasaan yang mereka miliki. Mereka menuhankan Iptek atas segalanya, sedang potensi rasa/jiwa mereka abaikan, sehingga mereka merasa ada sesuatu yang hilang dalam diri mereka.
Keseimbangan antara pikiran (fikr)_ dan rasa (z\ikr) ini menjadi penting karena secanggih apapun manusia tidak dapat menciptakan sesuatu. Keduanya adalah pilar peradaban yang tahan bantingan sejarah. Keduanya adalah perwujudan iman seorang muslim. Umat yang berpegang kepada kedua pilar ini disebut al Qur’an sebagai ‘ulu al- alba>b. Di samping mampu menintegrasikan kekuatan fikr dan z\ikr, juga mampu pula mengembangkan kearifan yang menurut al Qur’an dinilai sebagai khairan kas\iran.
Perpaduan antara pikiran dan rasa ini merupakan prasyarat mutlak dalam membangun peradaban Islam dan dunia yang cemerlang.


DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an al-Karim
Abu ‘Abdillah Muhammad ibn Isma’il al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Cet. III; Bairut: Dar Ibnu Kasir, 1407 H./1987 M.
Abu al-Husain Ahmad ibn Faris ibn Zakariya, Maqayis al-Lugah, Bairut: Ittihad al-Kitab al-‘Arabi, 1423 H./2002 M.
Abu Hilal al-‘Askari, al-Furuq al-Lugawiyah, CD-ROM al-Maktabah al-Syamilah.
Ali Saifullah, Antara Filsafat dan Pendidikan , Surabaya: Usaha Nasional, 1989.
Al-Kassyaf, Juz. IV, h. 360.
Amad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Hingga Capra, Cet. VIII; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000.
Harry Hamerma, Pintu Masuk ke Dunia Filsafat , Yogyakarta: Karisusu, 1992.
Ibrahim Mustafa, dkk., al-Mu’jam al-Wasit, CD-ROM al-Maktabah al-Syamilah.
Muhammad ‘Abd Rauf al-Manawi, al-Tauqif ‘ala Muhimmat al-Ta’arif , Cet. I; Bairut: Dar al-Fikr al-Mu’asir, 1410 H.
Muhammad Fuad Abdul Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaz al-Qur’an al-Karim, al-Qahirah: Dar al-Hadis, t.th.
Muhammad Husain Al-Dzahabi, al-Tafsir wa al-Mufassirun, t.p., Maktab Mush’ab bin Umair al-Islamiyah, 1424 H/2004 M.
Muhammad ibn Mukrim ibn Manzur al-Afriqi, Lisan al-‘Arab, Cet. I; Bairut: Dar Sadir, t.th.
Mulyadhi Kartanegara, Menyibak Tirai Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam , Cet. I; Bandung: Mizan, 2003.
Mulyadi Kartanegara, Menembus Batas Waktu Panorama Filsafat Islam , Cet. II; Bandung: Mizan Pustaka, 2005.
Mulyadi Kartanegara, Panorama Filsafat Islam , Cet: I; Bandung: Mizan, 2002.
Rodric Firth, Encyclopedia International, Philippenes : Gloria Incorperation, 1972.  
Syamsul Ma’arif, Revitalisasi Pendidikan Islam, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007.
The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu , Bandung : The Science and Tecnolody Stues Foundation, 1987.
A. Khudori Soleh, Model-model Epistemologi Islam , www.lowcostprepaid.com, (20 September 2009).
Hujair AH Sanaky, Dinamika Pemikiran dalam Islam, www.sanaky.staff.uii.ac.id, (05 Pebruari 2009).
M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an tentang Epistemologi, www.i.epistemology.net, (5-12-2009). 
Mohammad Adlany, Esensi Pengetahuan dalam Irfan, www.teosophy.wordpress.com (19 Agustus 2009).
Muhammad Kurdi, Pendekatan Bayani, Burhani dan Irfani dalam Ranah Ijtihadi Muhammadiyah, www.muhammad-kurdi.blogspot.com (Oktober 2008).   
Muslimindonesia, Pemahaman Sederhana terhadap Tiga Epistemologi, www.muslimindonesia.wordpress.com, (13 Maret 2009).
Sejarah Tafsir dan Perkembangannya, www.abusalma.wordpress.com (04/06-2009).
Wahib Wahab, Rekonstruksi Epistemologi Burhani Penyelarasan Metodologi Dalam Perspektif Al-Jabiri. www.bahrudinonline.netne.net, (23 April 2009).
A. Khudori Soleh, Epistemologi Bayani, www.id.shvoong.com/tags/episemologi-bayani, 07 Maret 2010. 
A. Khudori Soleh, Epistemologi Irfani, www.khudorisoleh.blogspot.com., (Pebruari 2010). 

Copyrigth by: http://sanadthkhusus.blogspot.com/2011/09/epistemologi-bayani-burhani-dan-irfani.html
 


cop












































No comments:

Post a Comment